Minggu, 16 September 2012

Kawan, cepatlah


Matahari telah bergulir menuju peristrahatannya
Kumulai melangkah dengan api semangat yang membara
Tapi, hatiku merasa khawatir
Perjalananku menegangkan
Langkah kakiku makin cepat,
Kawan, dengarlah
Batu, rumput, dan tanah pijakan ini menghujam kita dengan beribu tanya
Tapi, tak satupun dihiraukan
Jam berdentang semakin cepat
Perjalananku masih panjang,
Pikiranku mulai mengawan
Tapi ku yakin
semuanya butuh perjuangan,
dan semuanya tidak akan sia-sia perjuangan itu
Kawan,
Kumohon bersahabatlah padaku,
Jangan sampai aku kecewa lagi
Kawan,
Lihatlah, itu sudah dekat
Kawan, bergerak cepatlah
Semoga kita mendapatkannya
Ku tahu kawan, kamu sudah tidak sabar untuk mengayuhnya
Aku pun begitu, aku tak sabar untuk menikmati perjalanan kita berdua
Kau mengayuhnya dan aku yang mengendalikan arahnya
…..     

Senin, 03 September 2012

HANTU MASA LALU



Malam ini terasa berbeda dari malam sebelumnya. Pikiran yang antah beranta membuatku tak tahu apa yang harus aku kerjakan. Aku memutuskan untuk berbaring di atas sebuah kasur yang lusuh di dalam sebuah kamar kos yang hanya berukuran kecil. Sambil mentap langit-langit kamar, aku memutar memori masa lalu. Tanpa menyadari air mataku tumpah ruah membasahi bantalku.
Mengingat seseorang yang pernah mengisi ruang kosong di hatiku, hati ini seperti teriris sembilu. Sosok yang dulu pernah kukagumi, kusayangi, dan kuhargai telah pergi bersama mimpinya. Aku telah mengusirnya dari kehidupanku dengan alasan yang tak masuk akal. Penyesalan mulai muncul. Aku meraih HP yang berada di sisi kananku dan mengetik pesan
“Ass.. Maaf atas smua salah yang pernah ku buat, maaf slama ini aku selalu merepotkanmu. Smoga ikhlas memaafkanku.” #send
Menuggu HP ku berbunyi dan berharap ada balasan darinya. Karena menunggu terlalu lama, akupun tertidur. Dalam tidurku, aku memimpikannya. “Aku melihatnya dalam kondisi yang berbeda saat terakhir kali kami bertemu. Dia sangat kurus, memakai anting,kalung,dan mengisap sebatang rokok. Aku hanya ternganga melihatnya, dia semakin mendekat, seketika aku pun ingin berlari namun tanganku tertahan olehnya. Aku hanya bisa menangis,menangis dan berusaha melepaskan tanganku. Tapi genggamannya terlalu kuat. Aku hanya pasrah, mendengarkannya berbicara. Aku hanya bisa terdiam tanpa mengucapkan sekata patah pun padanya.”
Tiba-tiba aku terbangun. Aku mengambil segelas air untuk melegakan rasa lelahku yang seperti habis dikejar hantu. Aku ingin nge-cek apakah ada balasan smsnya atau tidak, sebelum aku menyimpan HP, aku melihat  jam.  Ternyata sudah pukul 03.15. Aku bersegera mengambil air wudhu, lalu shalat lail. Sehabis shalat, aku menenangkan perasaanku dengan membaca ayat suci Al-Qur’an. Setelah selesai, aku kembali ke tempat tidurku. Bersandar dan kembali mengingat mimpi itu. Aku hanya berfikir kalau itu hanyalah hantu yang berusaha menggangguku istrahat.
****
Seusai shalat subuh, aku ingin melanjutkan tidurku. Entah kenapa, aku memimpikan hal yang sama. Itu membuat hatiku berdenyut lebih kencang. Pukul 08.50, aku pun berangkat ke kampus, namun hati dan pikiranku entah ada dimana. Aku hanya berjalan tanpa peduli apa yang terjadi disekelilingku. Setibanya di kampus, aku hanya duduk menatap bangku-bangku yang masih belum terisi, padahal kuliah dimulai pukul 09.15. Tanganku meraih remot AC dan menyalakannya, aku melihat ada sosok hitam di depanku, ini mungkin ilusi yang terlalu tinggi.
Aku mengotak atik HP.ku dan mengirim pesan ke salah no,yang ada di kontakku. Dia adalah sahabatku. Aku menceritakan apa yang saya alami. Pada saat kuliah dimulai, aku tidak focuss dengan kuliah karena mimpiku yang sangat buruk yang merusak hariku dan mengganggu pikiranku.
            Malam harinya, salah satu temanku datang dan dia juga sahabat dari kepingan masa laluku. Aku menceritakan mimpiku padanya. Saya salut dengan nasehatnya dan membuat saya juga berfikir positif tentang mimpi yang aku anggap buruk. Aku menceritakan semua apa yang kurasakan padanya. Aku memutuskan untuk kembali mengiriminya pesan, meskipun pesan-pesanku sebelumnya tak ada yang dia respon. Aku tetap mencoba berfikir positif dan melawan pikiran-pikiran negative itu muncul.
***
Setelah hari yang berat itu kulalui, aku berusaha menggunakan setiap waktu kosongku dengan berdiskusi dengan teman-temanku. Kami mengisi semua waktu dengan kegiatan yang bermanfaat untuk meraih mimpi kami, menjadi seorang Researcher.
Kami pun berusaha sedapat mungkin untuk mewujudkan mimpi itu , kami telah menghasilkan dua karya. Namun, apa yang telah merasuki pikiranku, saat kami free melakukan pertemuan ingatanku tentangnya kembali hadir. Hingga suatu malam, saya kembali memimpikannya. Dalam mimpi itu, saya melihatnya. Dia tersenyum dan memanggilku untuk datang kepadanya. Tapi saya bingung, saya melihat ada 3 rumah yang bersambung dan hanya ada 1 rumah yang pintunya terbuka. Dia menunjukkanku jalan untuk ke tempatnya. Namun, ketika aku berfikir untuk ke sana, entah apa yang membuatku kembali dan memutar arah, saya tidak jadi menemuinya. Saat terbangun, aku hanya mencari no.nya yang ada di kontakku. Aku langsung menghapus no. itu, dan semenjak saat itu aku berjanji pada diri sendiri, aku tidak akan pernah lagi menghubunginya. Karena aku yakin dengan mimpiku, itu adalah petunjuk dari Allah untukku yang menunjukkan kalau aku harus menjauh darinya.
Hari-hari pun berjalan kembali normal tanpa beban memori tentang dirinya. Perasaanku kepadanya yang selama 6 bulan sulit untuk kuhapus, sekarang mulai hilang meski perlahan. Aku terasa bebas dengan ikatan masa laluku yang telah lama menjadi hantu dalam hidupku, yang membuat dan menguras segala energiku. Namun, ada hal yang membuatku sulit untuk menghilangkannya seutuhnya dari kehidupanku. Aku banyak berutang budi dengannya, aku telah merepotkannya hampir 4 tahun dan sangat tidak manusiawi jika aku akan menghapus semua itu. Aku berharap, suatu saat nanti saat aku berhasil dan sukses, aku sangat berharap bisa bertemu denganya meski itu cuma sekali. Aku hanya ingin mengucapkan banyak terima kasih atas bentuannya dan aku ingin membalas budi baiknya meskipun itu tak sebanding dengan apa yang dia lakukan untukku. Terima kasih Hantu masa laluku, terimah kasih atas kepergianmu dari kehidupanku dan terima kasih telah mengajarkanku kesabaran, kukuatan dan kepercayaan.
****

Minggu, 02 September 2012

Ketika Hati Tak Mampu Mengelak


Alifya, ya begitulah sapaanku padanya. Sosok yang tak pernah kutemui sebelumnya. Kami kenal sejak pertama saya menginjakkan kaki di tanah rantauan ini. Sosok yang begitu menginsprasi, dan senantiasa memberi motivasi kepadaku untuk tetap berkarya.
“ Fy, hari ini panas sekali yah, rayuan bantal membuatku betah di kamar ini,” ucapku sambil membaringkan badan di atas kasur yang sudah tak empuk.
“Jiah, nah lo? Hayolah.. kita ngademnya nanti di kampus” Bujuk Fy
“ aahhhh (geram) ,, sabar yah, istrahat sejenak dulu,” tepisku
Lama kami bercengkarama di sebuah kamar kecil itu. Tak lama kami bercengkrama, kami pun berjalan menuju kampus yang tak jauh dari kamar kosku. Matahari mulai menyayat kulitku. Aku begitu geram pada Fy yang terus memaksaku ngampus meski tak ada kuliah. Aku tak tahu apa yang membuat sahabatku yang satu ini hobbi banget ngampusnya. Tak ada kata hujan, panas, semua diterobos menuju kampus.
            Koridor fakultas demi fakultas nampak begitu legang, tak ada orang-orang yang berkeliaran seperti biasanya. Ya, hari ini tepatnya hari libur (cuti bersama) karena hari ini kan puasa pertama bagi umat muslim.
“ Aduh, kenapa puasa dijadikan alasan untuk tidak beraktifitas?” gumamku
Tanpa sedikitpun respon dari sahabatku yang super duper aneh ini. Arah kaki kami melangkah begitu tidak jelas. Kami memutuskan untuk singgah di sebuah taman yang cukup adem dan dapat menghilangkan sedikit penat. Saya dan Fy beristrahat di taman itu sambil membuka laptop masing-masing. Kami pun tak saling mempedulikan satu sama lain karena sibuk bercengkarama dengan dunia masing-masing. Selang beberapa lama, Nurul datang. Suasana mulai berubah karena kami asyiek mendengar cerita yang seakan tak akan ada ujungnya. Saya dan Fy mulai tergoda untuk bercerita dan meninggalkan dunia kami yang tadinya membuat taman ini begitu sunyi senyap.
            Waktu berjalan begitu cepat, rona senja mulai nampak di ufuk barat. Kami bergegas kembali ke tempat masing-masing. Saya jalan begitu sumringahnya, hingga suatu kejadian yang tak pernah kuduga dan sama sekali tak pernah terfikir olehku, kejadian yang menyayat hatiku.
Jalanan memang begitu sepi, tapi hati meronta, marah, kesal, jengkel dan semua luapan amarah menghujam dalam diriku. Mata mulai mengeluarkan bola keristal kecil. Berupayah mempercepat langkah kakiku yang sebenarnya sedah tak sanggup untuk kukerahkan. Setiba di kamar kosku, luapan emosi itupun keluar dengan sendirinya. Mataku sembab, semua karena kebodohanku sendiri. Waktu silih berganti. Begitu sakit hati ini, sungguh kebohonganku pada diriku sendiri sudah tak mampu tertahankan. Ponsel kecil yang selalu menjadi teman curhatku. Mengubah luapan emosi yang tak terbendung menjadi sajak-sajak indah yang menyakitkan.
            ***

Pagi ini begitu menyesakkan rongga udara dalam dadaku, tak ada oksigen yang sanggup kuhirup. Hati seakan mencekam, semua pergi, semua hilang dan yang tersisa hanyalah kemarahan. Tak mampu membendung semuanya, pagi buta itu disambut dengan hujan deras yang membuat aliran sungai kecil di mukaku ,
“Bodoh, kenapa harus nangis? Memangnya semuanya akan berhenti begitu saja? Apakah kehidupan ini berakhir tanpanya? Tidak, kenapa harus keluarin air mata, air mata tidak ada yang jual. Iis, kamu harus hadapi semuanya, senyum..senyum..hayo,,jangan nangis lagi” desahku sendiri
Tiit..tit..tit..
Pesan singkat dari El. Yah seseorang membuatku terlihat bodoh,dan menjatuhkan butiran Kristal kecilku.
“ Woii,,, kemana aja? Tidak ada kabarnya seharian, kangen tau”
Senyum pahit yang kumunculkan hanya membuatku berdecak tanpa sedikit pun niat untuk membalas pesannya. Yah, begitulah rasanya perih bagai sayatan sembilu yang telah ia goreskan dan tak sanggup untuk aku maafkan. Hatiku sakit, pikiranku tak karuan karenanya.
Mengotak-atik cp yang ada di hp.ku, tanganku langsung saja memencet tombol delete, dan yah, dia sudah kuhapus dalam daftar kontak yang ada di hpku. Seakan lari dari masalah, berharap segera melupakannya, tapi hatiku tak mampu mengelakkan perasaan yang telah kupendam dan tak ingin seorang pun tau itu kecuali Yang Maha Mengetahui.
***
Sebulan telah berlalu, akhirnya semua kembali seperti biasa, tak ada lagi tangisan, tak ada lagi ocehan, meski bekas goresan itu akan tetap membekas dalam hatiku.
Hidup kembali dengan lembaran baru, yah mulai memberikan tinta di lembaran baru itu.
Melihat, banyak tumpukan kumpulan cerpen di depanku, salah satu judul buku itu yang membuatku sangat tertarik untuk membaca, tanpa seizin pemilik buku, kuraih buku itu dan membacanya. Satu kalimat yang begitu mengena dan begitu terngiang di awan awan pikiranaku
“ Pertemanan sering kali diakhiri dengan cinta, tapi bercinta jarang diakhiri dengan pertemana”
Sependapat dengan hal itu, dan memang benar. Itulah yang ku rasakan saat ini. Kembali memutar film masa laluku dengannya. Sekarang tak ada air mata ketika mengingatnya hanya senyuman ngejek yang kulukis di wajahku.
“ Dasar, abg labil (ababil). Hemmm” gumamku dalam hati
“Assalamu’alaikum..” ujar salah seorang teman karibku
Membangunkanku dari lamunan masa laluku. Dan denga semangat, kuceritakan semuanya pada temanku ini. Panjang cerita, kami hanya bisa tertawa mengingat semuanya.
***
Roda waktu tak pernah berhenti untuk berputar, malam silih berganti, hari demi hari, bahkan bulan demi bulan berlalu begitu saja. Tak terasa setahun lama saya memutuskan silatuhrahmi dengan temanku sendiri bahkan dia tempatku berbagai keluh kesah. El, orang yang telah menoreskan luka hati ini. Pikiranku mulai kembali jernih dan sedikit dewasa. Mencari no kontak El, dan alhamdullillah dapat. Tak menunggu lama, saya langsung membuat konsep pesan singkat untuk kukirim kepadanya. Memohon maaf atas sikapku selama ini yang tidak wajar dan seharusnya tak pantas kulakukan kepadanya.
            Beruntung sekali, dia tidak menyimpan dendam padaku, dan ia seakan paham betul dengan sikapku yang cukup egois dan menyuruhku melupakan kejadian setahun lalu.

@all my friend: